oleh Arini Nurul Husna (Pengajar Griya Abata Al Ikhlas)
Alhamdulillah, akhir pekan kemarin (Sabtu–Ahad, 6–7 September 2025) TPA Al-Ikhlas kelas remaja baru saja melaksanakan kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Griya Abata Al-Ikhlas. Sebanyak 14 santri remaja ikut serta dalam kegiatan ini, didampingi oleh tiga ustadzah.
Kegiatan mabit ini sejatinya berawal dari permintaan para santri sekitar dua bulan lalu. Mereka ingin merasakan pengalaman mabit karena mereka bersekolah di negeri sehingga tidak ada kegiatan mabit di sekolah mereka. Setelah memastikan izin dari orang tua dan meneguhkan niat santri, akhirnya acara ini bisa terwujud.






Alhamdulillah, akhir pekan kemarin (Sabtu–Ahad, 6–7 September 2025) TPA Al-Ikhlas kelas remaja baru saja melaksanakan kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Griya Abata Al-Ikhlas. Sebanyak 14 santri remaja ikut serta dalam kegiatan ini, didampingi oleh tiga ustadzah.
Kegiatan mabit ini sejatinya berawal dari permintaan para santri sekitar dua bulan lalu. Mereka ingin merasakan pengalaman mabit karena mereka bersekolah di negeri sehingga tidak ada kegiatan mabit di sekolah mereka. Setelah memastikan izin dari orang tua dan meneguhkan niat santri, akhirnya acara ini bisa terwujud.
Agenda Hari Pertama
Sabtu sore kegiatan dibuka dengan presensi dan pengecekan barang bawaan. Dilanjutkan shalat Maghrib berjamaah, shalat rawatib, dzikir, serta halaqah malam. Dalam halaqah, santri bergiliran murojaah hafalan mulai dari surat An-Naas hingga Al-Qari’ah. Tujuannya untuk melatih keberanian tampil di depan umum sekaligus menjaga hafalan yang sudah mereka miliki.
Usai shalat Isya, acara berlanjut dengan makan malam. Spesialnya, menu kali ini dimasak langsung oleh para santri. Mulai dari menyiapkan bahan, memasak, hingga menyajikan, semua dilakukan bersama. Hasilnya: tumis telur sosis dan es susu jelly yang sederhana tapi penuh kebersamaan. Dari sini mereka belajar kemandirian sekaligus kerjasama tim.
Malam itu ditutup dengan aktivitas kreatif berupa meronce. Ternyata, para santri punya ide-ide segar dan kreativitas yang luar biasa. Sekitar pukul 22.00 kegiatan selesai dan dilanjutkan istirahat malam.
Agenda Hari Kedua
Meski kesepakatan awalnya bangun pukul 03.30, ternyata banyak santri yang sudah terbangun sejak jam 2 dini hari. Mereka mengisinya dengan meronce, makan snack, lalu melaksanakan shalat tahajud dan tilawah mandiri. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan shalat Subuh berjamaah, dzikir, dan halaqah pagi dengan murojaah surat An-Naba’.
Tak hanya ibadah, mabit ini juga menghadirkan aktivitas fisik yang menyenangkan untuk menjaga jasadiyah (tubuh) mereka sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Para santri senam pagi dan jalan-jalan hingga Lapangan Gunung Kunci. Di sana, kami bermain sekaligus berlatih mengenal potensi diri serta belajar menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun teman-teman.
Kegiatan ditutup dengan sesi kesan dan pesan dari para santri. Beberapa dari mereka antusias menyampaikan:
“Mau mabit lagi, ustadzah!”
“Sering-sering mabit, us!”
“Kalau mabit lagi, aku mau bikin ini itu…”
Ada juga yang mengaku mendapatkan pengalaman baru:
“Aku jadi tau cara shalat tahajud itu gimana.”
“Aku baru tau ada shalat sunnah setelah shalat wajib.”
Mabit kali ini bukan hanya tentang tidur bersama di TPA, tapi lebih dari itu: belajar bersama, belajar bersyukur, belajar kemandirian, melatih keberanian, memperkuat ibadah, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Semoga kegiatan sederhana ini bisa menjadi bekal berharga bagi para santri dalam menumbuhkan iman dan takwa mereka.